Membentuk karakter,
merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Seorang siswa tumbuh menjadi
pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula.
Ada tiga pihak yang mempunyai peran penting, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dalam pembentukan karakter, ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi. Pertama,
seorang siswa mengerti baik dan buruk. Ia mengerti tindakan apa yang harus
diambil serta mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kedua, ia
mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan
ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Misalnya, seorang
siswa tidak mau menyontek ketika ulangan tengah berlangsung. Karena menyontek
adalah kebiasaan buruk, ia tidak mau melakukannya. Ketiga, siswa
di dalam lingkungannya mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya.
Karakter-karakter yang
baik harusnya dapat dipelihara. Hal pertama yang dapat dilakukan untuk
membentuk karakter seorang siswa adalah dirumah. Ketika usia mereka di bawah tujuh tahun adalah masa terpenting dalam menanamkan karakter pada anak.
Dalam hal ini, orang tua (keluarga) perlu menanamkan karakter tersebut sehingga
pembangunan watak, akhlak atau karakter bangsa (nation and character
building,), mulai tumbuh dan dapat berkembang dalam kesehariannya.
Selanjutnya, dalam
membangun karakter seorang siswa, pihak sekolah perlu memperhatikan aturan dan
tata tertib yang berlaku disekolah. Di era globalisasi ini, banyak sekolah yang
sudah jarang sekali menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila sehingga hubungan
antara guru dan siswa tidak begitu akrab. Begitu juga dengan banyaknya siswa
yang acuh tak acuh dengan keberadaan guru, tidak menghormati guru, dan
lain-lain. Oleh karena itu, pihak sekolah perlu memperhatikan pembinaan sikap
dan karakter masing-masing siswa dengan cara membina dan meningkatkan
intelektualisme dan profesionalisme. Selain itu, pihak sekolah juga dapat
menerapkan nilai-nilai karakter pada siswa dengan membuat aturan dan tata
tertib yang dapat menumbuhkan karakter-karakter baik, misalnya dengan membuat
kantin kejujuran. Dalam hal ini, sekolah dapat menumbuhkan karakter kejujuran
pad setap siswa.
Pendidikan karakter sangat baik diterapkan, terutama bagi
seorang siswa. Dengan adanya pendidikan karakter yang diterapkan secara
sistematis dan berkelanjutan, seorang siswa akan menjadi cerdas emosinya.
Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan seorang siswa
dalam menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil
menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil
secara akademis. Selain itu, pendidikan karakter
adalah kunci keberhasilan individu.
Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh
yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan
rasa tanggung jawab), PIKIR (kecerdasan), RAGA (kesehatan dan kebersihan),
serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas).
Karakter mempunyai banyak arti, diantaranya, kemampuan
untuk mengatasi secara efektif situasi sulit, tidak enak atau tidak nyaman,
atau berbahaya. Dengan pengertian tersebut karakter menuntut kecerdasan otak,
kepekaan nurani, kepekaan diri dan lingkungan, kecerdasan merespon, dan
kesehatan, kekuatan, dan kebugaran jasmani. Pembentukan karakter pada anak
dimulai sejak anak berusia dini. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Pembentukan ini juga seiring dengan
perkembangan kognitif pada anak, yang pada dasarnya adalah perubahan dari keseimbangan yang
telah dimiliki ke arah keseimbangan baru yang diperolehnya. Dengan perkembangan
itu seorang siswa dengan cepat dapat menerima karakter yang baik. Lingkungan
sekolah tentunya berperan besar dalam pembentukan karakter pada anak.
Intensitas pertemuan yang hampir setiap hari dengan guru dan teman-teman
sekolah tentunya membuat anak mencari-cari dirinya melalui hal yang mereka
lihat, rasakan, dengar, dan tiru dari lingkungan sekitar.
Individu yang berkarakter
baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang baik
terhadap tuhan yang maha esa, dirinya ,sesama lingkungan, bangsa dan negara
serta dunia internasional. Pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (
pengetahuan ) dirinya dan di sertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya
(perasaannya).
Dari pembahasan di atas
dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang di
rancang dan di laksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik
memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan tuhan yang maha
esa,diri sendiri ,sesama manusia , lingkungan dan kebangsaan yang terwujud
dalam pikiran ,sikap, perasaan ,perkataan ,perbuatan berdasarkan norma-norma
agama , hukum ,tata krama , budaya, dan adat- istiadat.
SUMBER :
http://skulwork-nytha.blogspot.co.id/2012/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar