Selasa, 26 April 2016

“MAJA LABO DAHU”



Maja Labo Dahu merupakan falsafah kehidupan yang mengandung nilai-nilai luhur yang dijadikan pedoman oleh Pemerintah dan seluruh masyarakat. Nilai-nilai luhur yang bersumber dari Maja Labo Dahu ialah :

1.Tohompara nahu sura dou labo danana
2.Edera Nahu sura dou Marimpa
3.Renta ba rera, kapoda ba ade karawi ba weki
4.Nggahi Rawi Pahu

Keempat nilai luhur dari Maja Labo Dahu disebut di atas pada hakekatnya merupakan perpaduan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Sangaji dan rakyat harus melaksanakan falsafah secara utuh dan konsekuen. “Tahompara nahu sura dou labo dana” yang berarti “biarkan aku menderita asalkan demi rakyat dan negara”. Falsafah tersebut mampu mengobarkan semangat pengabdian rakyat terhadap Kesultanan Bima sampai pada pelaksana pemerintah. Penerapan falsafah berikut, yakni “Edera nahu sura dou marimpa”, yang berarti “saya (Sultan) tidak penting (bukan yang utama), yang utama dan penting adalah masyarakat secara keseluruhan”.

Falsafah ini pada hakekatnya mewajibkan sultan untuk memperhatikan kepentingan rakyat banyak tanpa mempedulikan kepentingan pribadi atau golongannya. Dalam menjalankan tugas sehari-hari para Raja, Sultan dan seluruh masyarakat harus berpedoman pada nilai-nilai luhur “Nggahi Rawi Pahu” yang mengandung pengertian bahwa apa yang telah diikrarkan harus dapat diwujudkan menjadi kenyataan.

Mereka secara konsekuen melakukan tugas, agar mampu mewujudkan tujuan yang telah disepakati. Bila gagal berarti ada di antara mereka yang melanggar nilai falsafah “Renta ba rera kapoda ba ade karawi ba weki” yang berarti “yang telah diikrarkan oleh lidah yang bersumber dari hati nurani, harus mampu dikerjakan dan dilaksanakan oleh raga dan jasmani”.Jika kita cermati secara seksama, ternyata falsafah Pancasila belum ada apa-apanya dibanding pengabdian dan penerapan falsafah Maja Labo Dahu tersebut di masa silam, bahkan kelahiran falsafah Maja Labo Dahu tersebut lebih dulu dan jauh melampaui dibanding masa kelahiran falsafah Pancasila yang kita kenal sekarang ini.Falsafah tersebut telah mengejewantah dan telah menjadi nilai-nilai luhur yang menjadi dasar pemerintahan pada masa lalu, yang wajib diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan nyata masyarakat Bima hingga saat ini.
Kesuksesan dan kejayaan yang berhasil dirangkul Kesultanan Bima di masa lalu merupakan buah nyata penerapan falsafah tersebut, terutama dalam mengimbangi, menyaingi, dan mengungguli kerajaan-kerajaan lain di seluruh negeri. Berkat penerapan falsafah tersebut pula, kompeni Belanda berhasil diusir dari tanah Bima untuk selamanya. Semoga, falsafah tersebut masih membara, membakar semangat juang rakyat Bima kapan dan di mana pun berada, untuk menggapai kejayaan dan kegemilangan masyarakat dan tanah Bima hari ini dan ke depan, serta kejayaan dan kegemilangan bangsa Indonesia tercinta.

Sumber :
http://chunkybrandalz.blogspot.co.id/2013/07/semboyan-dana-mbojo.html

Rabu, 13 April 2016

FENOMENA IJAZAH DIPERJUAL BELIKAN




Maraknya berita tentang fenomena memperjual belikan ijazah, oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka ingingkan dan salah satunya adalah mereka mencari jalan pintas dimana mereka memperjual belikan ijazah.(1)
Pendidikan memang perlu dalam kehidupanya kita oleh karena itu kita harus bersekolah dari tingkat SD sampai seterusnya. Jadi untuk mendapatkan sebuah ijazah itu tidaklah mudah seperti yang kita bayangkan banyak hal-hal yang dilaluli dan prosesnya sangatlah panjang, dan kita harus belajar dan belajar mengikuti apa yang sudah menjadi kegiatan disekolah.
Akan tetapi disaat sekarang ini banyak sekali beredar kabar atau informasi tentang orang yang memeperjual belikan ijazah, hal yang tidak pantas tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan menjadi pekerjaan yang menguntungkan bagi si pelaku. Tanpa memeras otak dan belajar, ijazah sudah ada dalam genggaman. Karena itu, selama masih ada peminat, akan ada saja yang mengaku sebagai lembaga pendidikan dan menjalankan praktik ilegal itu.
Hal menyedihkan, sudah ada 147 alumnus dengan ijazah palsu yang umumnya strata 3 dikeluarkan lembaga itu. Profesi para "alumnus" itu bermacam-macam, mulai dari manajer perusahaan, pejabat kepolisian, hingga rektor perguruan tinggi. Dua rektor perguruan tinggi di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tercantum dalam daftar alumni. Salah satunya, mantan Rektor Universitas PGRI Nusa Tenggara Timur, SH, yang kini sudah diberhentikan. Namun, sekitar 2.300 ijazah mahasiswa yang ditandatangani oleh SH kini jadi bermasalah dan diragukan.(1)
Selain itu, ditemukan lembaga pendidikan yang sembarangan meluluskan mahasiswa. Hal ini didapati saat Kementerian Ristek dan Dikti melakukan inspeksi ke Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Adhy Niaga di Bekasi. STIE Adhy Niaga tercatat sebagai perguruan tinggi yang tidak aktif di data Kementerian Ristek dan Dikti. Namun, lembaga itu terbukti meluluskan para mahasiswa yang tidak layak. Ada yang tercatat baru kuliah dan beroleh 6 SKS, tetapi sudah boleh ikut wisuda.(1)
Masih adanya kasus-kasus jual beli ijazah juga mencerminkan sebagian manusia Indonesia masih menyukai jalan pintas. Ketimbang bekerja keras memperjuangkan selembar ijazah, sebagian orang memilih membeli saja.
Situasi ini tentu tak dapat dipandang remeh. Dapat dibayangkan jika orang-orang yang memegang "ijazah belian" itu menduduki jabatan-jabatan penting dan menentukan tanpa kompetensi. Apalagi jabatan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Bisa jadi, bukan perbaikan yang diperoleh, melainkan kesia-siaan dan kerugian bagi masyarakat luas.



Sumber :
(1)   http://print.kompas.com/baca/2015/05/26/Riuh-Rendah-Masalah-Jual-Beli-Ijazah

Selasa, 05 April 2016

"SARONE"






Disuku mbojo juga terdapat berbagai macam alat musik yang sangat klasik, dimana alat music tradisional ini juga hampir punah. Alat music ini juga dimainkan pada saat ada upacara dan acara dihari-hari besar seperti ada acara dikerajaan dan sebagainya. Pelestarian alata music tradisional ini juga hampir tidak di semau daerah yang menggunakanya karena seiring perekmbanganya zaman. Jadi sedikit mulai sedikit alat music ini akan terlupakan oleh masyarakat mbojo atau suku mbojo.
Suku Mbojo (Bima) adalah suku yang mendiami pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat, terdapat beragam kesenian tradisi dan budaya menjadi bagian dalam aturan dan tata kehidupan masyarakat Bima. Masyarakat Bima memiliki banyak tari tradisional dan menyebut tari dengan istilah Mpa’a. Masyarakat Bima memiliki tarian atau Mpa’a yang tumbuh dan berkembang dilingkungan istana yang disebut (Mpa’a Istana) atau tarian klasik antara lain, Mpa’a Karaenta, Mpa’a Mboha, Mpa’a Toja, Mpa’a Lengsara, Mpa’a Lenggo Siwe, dan Mpa’a Kanja. Serta ada pula tarian yang tumbuh dan berkembang diluar istana disebut tarian rakyat (Mpa’a Ari Mai Ba Asi) antara lain, Mpa’a Kapodo, Mpa’a Buja Kada, Mpa’a Sila atau Mpa’a Peda, Mpa’a Gantao, Mpa’a Parise, Mpa’a Hadra dan Tari Kapahu Nggahi Ra Pehe. Sarone merupakan alat musik tiup sebagai pengiring tarian rakyat sedangkan Silu merupakan alat musik tiup sebagai pengiring tarian di dalam lingkungan istana. (Ismail. dkk, 2007: 32-41)

 
Sarone adalah sebuah alat musik tiup dari Kabupaten Bima Dompu. Alat musik ini  termasuk golongan aerofon yang berlidah. Menurut jumlah lidahnya termasuk tipe klarinet karena lidahnya hanya satu, yang menurut bahasa setempat, lidah ini disebut Lera. Bentuk tabungnya adalah konis (makin lama makin besar)
Sarone, dibuat dari dua bahan pokok yaitu buluh ( jenis bambu kecil) dan daun lontar. Lolo dan anak lolo terdiri atas bulu.. Pada lolo terdapat 6 (enam) bongkang ( lubang) di atas, dan satu lubang di bawah. Cara melubangi dilakukan dengan menggunakan kawat besar yang dibakar. Jarak antara lubang yang satu dengan yang lainnya diukur dengan mengambil ukuran keliling lolo.
Sedang lubang yang ada di bawah, jaraknya ½ (setengah)dari jarak antara dua lubang diatas. Sarone ada yang berlubang lima di atas dan ada yang berlubang 6 (enam) di atas. Sedang lubang dibawah tetap satu. Untuk yang mempunyai lima lubang, nada – nadanya adalah, do, re, mi, fa dan sol. Bila sarone ditup, nada do diperoleh dengan menutup semua lubang, baik lubang diatas maupun lubang di bawah. Nada re diperoleh dengan membuka lubang paling bawah.
Nada mi diperoleh dengan membuka dua lubang nada fa dengan membuka tiga lubang. Sedang nada sol diperoleh dengan menutup lubang kedua dari atas, sementara lubang – lubang yang lain dibuka. Pada serune yang memiliki enam lubang, bertambah satu nada yaitu nada si.


SUMBER :
http://sulaimantbn.blogspot.co.id/2012/12/blog-post_24.html