Maraknya
berita tentang fenomena memperjual belikan ijazah, oleh oknum-oknum yang tidak
bertanggung jawab. Mereka menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang
mereka ingingkan dan salah satunya adalah mereka mencari jalan pintas dimana
mereka memperjual belikan ijazah.(1)
Pendidikan
memang perlu dalam kehidupanya kita oleh karena itu kita harus bersekolah dari
tingkat SD sampai seterusnya. Jadi untuk mendapatkan sebuah ijazah itu tidaklah
mudah seperti yang kita bayangkan banyak hal-hal yang dilaluli dan prosesnya
sangatlah panjang, dan kita harus belajar dan belajar mengikuti apa yang sudah
menjadi kegiatan disekolah.
Akan
tetapi disaat sekarang ini banyak sekali beredar kabar atau informasi tentang
orang yang memeperjual belikan ijazah, hal yang tidak pantas tersebut sudah
menjadi hal yang biasa dan menjadi pekerjaan yang menguntungkan bagi si pelaku.
Tanpa memeras otak dan belajar, ijazah sudah ada dalam genggaman. Karena itu, selama
masih ada peminat, akan ada saja yang mengaku sebagai lembaga pendidikan dan
menjalankan praktik ilegal itu.
Hal
menyedihkan, sudah ada 147 alumnus dengan ijazah palsu yang umumnya strata 3
dikeluarkan lembaga itu. Profesi para "alumnus" itu bermacam-macam,
mulai dari manajer perusahaan, pejabat kepolisian, hingga rektor perguruan
tinggi. Dua rektor perguruan tinggi di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tercantum
dalam daftar alumni. Salah satunya, mantan Rektor Universitas PGRI Nusa
Tenggara Timur, SH, yang kini sudah diberhentikan. Namun, sekitar 2.300 ijazah
mahasiswa yang ditandatangani oleh SH kini jadi bermasalah dan diragukan.(1)
Selain
itu, ditemukan lembaga pendidikan yang sembarangan meluluskan mahasiswa. Hal
ini didapati saat Kementerian Ristek dan Dikti melakukan inspeksi ke Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Adhy Niaga di Bekasi. STIE Adhy Niaga tercatat
sebagai perguruan tinggi yang tidak aktif di data Kementerian Ristek dan Dikti.
Namun, lembaga itu terbukti meluluskan para mahasiswa yang tidak layak. Ada
yang tercatat baru kuliah dan beroleh 6 SKS, tetapi sudah boleh ikut wisuda.(1)
Masih
adanya kasus-kasus jual beli ijazah juga mencerminkan sebagian manusia
Indonesia masih menyukai jalan pintas. Ketimbang bekerja keras memperjuangkan
selembar ijazah, sebagian orang memilih membeli saja.
Situasi
ini tentu tak dapat dipandang remeh. Dapat dibayangkan jika orang-orang yang
memegang "ijazah belian" itu menduduki jabatan-jabatan penting dan
menentukan tanpa kompetensi. Apalagi jabatan yang berkaitan dengan kepentingan
masyarakat. Bisa jadi, bukan perbaikan yang diperoleh, melainkan kesia-siaan
dan kerugian bagi masyarakat luas.
Sumber
:
(1) http://print.kompas.com/baca/2015/05/26/Riuh-Rendah-Masalah-Jual-Beli-Ijazah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar